Madu terbentuk dari cairan yang dikeluarkan oleh lebah yang mempunyai banyak khasiatnya, terutama untuk anak-anak. Madu dapat mningkatkan nafsu makan, sebagai obat batuk, meredahkan demam, mencerdas otak, dan sebagai sumber energi yang sangat baik untuk membantu pertumbuhan anak-anak.

Madu terbagi 2 jenis yaitu madu hutan dan madu ternak, masing-masing memiliki keunggulan dan kelebihan. Tergantung selera penggunanya mau menggunakan madu hutan atau madu ternak. Dikutip dari Tempo, seorang petani madu asal Jepara, Jawa Tengah, mempunyai ratusan papan lapis kayu yang mengandung koloni lebah mellifera. Berdasarkan keterangan dari Sudiro madu ternak seringkali berasal dari bunga yang sama.

Inilah yang menciptakan madu ternak sering dilabeli cocok asal bunganya, misalnya, madu randu berasal dari pohon randu, madu sonokeling, dan madu lengkeng. Lebah ternak bersarang di lokasi yang telah dibuatkan oleh petani. Mayoritas sarang lebah ternak berbentuk kardus kotak.

Madu Gizidat berasal dari madu hutan yang dihasilkan oleh lebah apis dorsata. Lebah ini menggali nektar bunga dari tumbuhan di hutan. Lebah dorsata hidup liar di hutan. Berdasarkan keterangan dari Kuntadi lebah ini bersarang di pohon dengan elevasi antara 20-30 meter. Satu pohon dapat ada 100-200 sarang. Berbeda dengan petani lebah ternak, usaha petani madu hutan lebih berat pada proses pemungutan sarang lebah. “Letaknya tidak jarang di ujung cabang pohon,” katanya.

Ketua Asosiasi Petani Madu Hutan Tesso Nilo Riau Achmad Wazar menuliskan sulit mengidentifikasi madu hutan yang dipanen berasal dari jenis nektarnya. Berbeda dengan madu ternak, penamaan madu hutan mengacu pada tempat misalnya madu hutan tesso nilo berasal dari Hutan Tessno Nilo, atau madu hutan dari Hutan Danau Sentarum dikenal dengan nama madu hutan Kalimantan.
Berdasarkan keterangan dari Achmad warna madu hutan rata-rata merah gelap, sementara madu ternak warnanya lebih cerah.

Madu hutan pun lebih encer sebab sarangnya berada di tempat terbuka sampai-sampai potensi terkena air hujan lebih besar. Adapun sarang lebah ternak berada di lokasi tertutup terlindungi dari air. Kandungan madu hutan maksimal 22 persen sementara madu ternak maksimal 18 persen. Berdasarkan acuan Standar Nasional Indonesia (SNI) madu dinamakan asli atau murni andai kandungan airnya maksimal 22 persen. Ketua Umum Jaringan Madu Hutan Indonesia Rio Bertoni menuliskan madu hutan mendominasi volume madu nasional. “Sekitar 75 persen,” ujarnya. Sisanya disuplai oleh madu ternak sebesar 25 persen.

Untuk soal harga bervariasi. Direktur Utama PT Madu Pramuka yang memproduksi madu ternak membanderol madunya ekuivalen Rp 150-200 ribu per kilogram. Adapun madu hutan Riau dibanderol Rp 70 ribu per kilogram. Berdasarkan keterangan dari Kuntadi madu hutan termahal ialah madu hutan pelawan Bangka Belitung yang dibanderol Rp 500-700 ribu per kilogram. Berbeda dengan madu hutan pada umumnya, madu hutan pelawan lebih cerah. “Tidak gampang menggumpal meski ditabung di kulkas,” katanya.